Capek Stuck
Gen Z salah satu generasi yang mudah tertimpa gejala penyakit “capek stuck” merasa Lelah fisik sekaligus mental. Fenomena ini bukan sekadar rasa malas, melainkan problem kompleks yang berakar dari berbagai beban yang menumpuk, kebiasaan menunda (prokrastinasi), tuntutan perfeksionisme, hingga lemahnya manajemen waktu. Akibatnya berimplikasi kepada motivasi menurun, produktivitas macet, bahkan kepercayaan diri ikut terganggu.
Terdapat
beberapa teori menjelaskan mengapa “capek stuck” terjadi. Menurut Cognitive
Load Theory (Sweller, 1988), otak manusia memiliki kapasitas terbatas dalam
memproses informasi. Jika informasi terlalu banyak dan kompleks, otak mengalami
kejenuhan hingga timbul mental block. Selanjutnya, Self-Regulated Learning
Theory (Zimmerman, 2000) menekankan bahwa keberhasilan belajar sangat
bergantung pada kemampuan individu mengatur tujuan, motivasi, serta strategi
belajar. Ketika regulasi diri gagal, stuck pun menjadi tak terhindarkan.
Sementara itu, Flow Theory (Csikszentmihalyi, 1990) menjelaskan bahwa manusia
baru merasa optimal ketika tantangan seimbang dengan kemampuan, ketika
tantangan terlalu sulit muncullah stres, dan ketika terlalu mudah menimbulkan
kebosanan.
Untuk
mengatasi “capek stuck”, diperlukan kombinasi strategi kognitif, emosional, dan
sosial. Secara praktis, tugas besar perlu dipecah menjadi bagian kecil agar
lebih mudah dikerjakan. Penerapan prinsip self-regulated learning juga
penting, yaitu menetapkan target yang jelas, memantau progres, dan melakukan
refleksi diri secara berkala. Selain itu, menjaga kesehatan fisik dan mental
melalui istirahat cukup, olahraga ringan, serta praktik mindfulness
dapat membantu pikiran lebih segar. Dukungan sosial dari dosen, teman, atau
komunitas akademik juga berperan besar dalam membuka perspektif baru. Teknik
sederhana seperti Pomodoro, belajar fokus selama 25 menit lalu istirahat
5 menit, terbukti mampu meningkatkan konsentrasi.
Pada
akhirnya, “capek stuck” bukanlah tanda kegagalan, melainkan sinyal dari tubuh
dan pikiran bahwa strategi belajar perlu diatur ulang. Jika mampu memaknainya
sebagai jeda, bukan hambatan, maka kondisi stuck justru bisa menjadi momentum
untuk bangkit, menemukan cara belajar yang lebih efektif, serta meningkatkan
produktivitas akademik secara berkelanjutan.

Posting Komentar untuk "Capek Stuck"