Ibu, Madrasah Pertama
Catatan untuk Wisudawati Mahasantri IAIMU.
Ada kitab favorit yang sering saya baca semenjak dulu masih
sekolah Madrasah Diniyah sampai saat ini,. Namanya 'Izhatun Nasyi'in, nasihat untuk generasi muda, karya Syekh
Musthafa al-Ghalayini. Di balik lembaran halamannya, beliau menulis kalimat sebagaimana
berikut
وَلَا رَيْبَ أَنَّ سَعَادَةَ النَّشْءِ – وَهُمْ
عِمَادُ الْأُمَّةِ – أَكْثَرُ مَا تَكُوْنُ بِالْمَرْأَةِ. فَهِيَ إِنْ شَاءَتْ
أَفْسَدَتْ أَخْلَاقَهُمْ، وَإِنْ شَاءَتْ أَصْلَحَتْهَا، لِأَنَّ بِيَدِهَا
زِمَامَ تَرْبِيَتِهِمْ وَتَهْذِيْبِهِمْ.
Tidak diragukan, kata beliau,
kebahagiaan generasi muda, yang merupakan tiang umat, paling banyak bergantung
pada perempuan. Bila ia mau, ia bisa merusak akhlak mereka. Bila ia mau, ia
bisa memperbaikinya. Sebab di tangannyalah tali kendali pendidikan dan
pembinaan mereka.
Kalimat itu pendek, tapi beratnya
bukan main. Perhatikan kata zimam.
Dalam bahasa Arab, zimam adalah tali
kekang unta. Siapa memegangnya, dialah yang menentukan ke mana unta berjalan:
ke sumur atau ke jurang, ke kampung atau ke padang tandus. Syekh al-Ghalayini
tidak sedang memuji perempuan dengan bunga-bunga kata. Beliau sedang
menyerahkan sebuah amanah, dan amanah itu berbau tanggung jawab, bukan berbau
parfum.
Orang Madura punya ungkapan yang
senada: bhuppa’ bhâbhu’ ghuru rato.
Ayah, ibu, guru, lalu pemimpin. Yang menarik, ibu disebut di urutan kedua, tapi
dalam praktik hidup sehari-hari, ibulah yang paling lama memegang tangan anak-anaknya.
Ayah sering berangkat sebelum fajar, berlayar, berdagang, merantau. Yang
tinggal di rumah, yang mengajari alif-ba-ta di atas tikar pandan, yang
menjewer telinga ketika bolos ngaji, adalah ibu.
Toga di Atas Kerudung
Tadi pagi , di IAIMU Pamekasan
melaksanakan siding senat terbuka wisuda ke XX bertempat di PP. Kebun Baru,
para wisudawati melangkah ke panggung dengan toga hitam yang menutupi kerudung
putih mereka. Pemandangan itu terlihat sederhana, tapi bagi yang mau merenung,
dan hadir menyaksikan menyimpan cerita Panjang
dan perjuangan Panjang, sebagaimana yang disampaikan perwakilan peserta wisuda
saat menyampaikan pesan Kesan.
Mereka bukan mahasiswi biasa. Mereka
mahasantri. Sebagian besar dari mereka menjalani kuliah sambil tetap tidur di
asrama, antre mandi sebelum Subuh, mengaji al-Qur’an bakda Maghrib, lalu
mengerjakan makalah di bawah lampu kamar yang sering redup. Skripsi mereka
ditulis di sela setoran hafalan dan giliran piket Khidmah yang telah terjadwal rapi
oleh pesantren. Ada yang mengetik bab metodologi sambil menunggu nasi matang di
dhâpor pondok. Atau sambil mothola’ah
kitab yang akan diujikan di Madrasah.
Di sinilah keistimewaannya. Selama
ini kerap mendengar dikotomi yang melelahkan: santri itu kolot, ngapai sarjana
wong tugasnya tidak jauh dari urusan dapur; yang satu pandai kitab tapi gagap
zaman, yang lain fasih teori tapi miskin adab. Para wisudawati ini membantah
dikotomi itu bukan dengan seminar, melainkan dengan hidup mereka sendiri.
Mereka membaca Ta'lim al-Muta'allim
dan teori kurikulum dalam minggu yang sama. Mereka mengenal sanad sekaligus mengenal sitasi.
Maka gelar sarjana yang mereka terima
hari ini sebetulnya gelar ganda yang tak tertulis di ijazah. Ijazah kampus
menyebut program studinya. Ijazah pesantren menyebut sesuatu yang lebih sunyi:
keterbiasaan bangun malam, kesabaran mengantre, kerelaan ngabdi, dan rasa malu kepada guru. Yang kedua ini tidak bisa
dicetak di kertas bermap, tapi justru itulah yang kelak paling dibutuhkan oleh
rumah tangga, madrasah, dan masyarakat mereka.
Empat Bekal yang Disebut Sang Syekh
Setelah menyerahkan zimam itu, Syekh al-Ghalayini
melanjutkan: karena itu wajib bagi perempuan menjadi pribadi yang dihormati,
berkedudukan tinggi, terpelajar, terdidik, berakhlak mulia, cakap mengelola
rumah, dan mengerti apa yang menjadi kewajibannya. Dari deretan itu, ada empat
bekal yang rasanya pas untuk dibawa pulang para wisudawati hari ini.
Pertama, muhtaramatul janib, terhormat. Kehormatan perempuan
tidak lahir dari baju mahal atau jumlah pengikut di media sosial. Ia lahir dari
cara menjaga diri, cara berbicara, dan cara memperlakukan orang lain. Santri
putri Madura sudah lama diajari ini lewat kata todus, rasa malu yang menjaga. Malu di sini bukan rendah diri,
tetapi rem yang membuat langkah tetap terarah.
Kedua, rafi'atul manzilah, berkedudukan. Kedudukan bukan berarti
harus menjadi pejabat. Ia berarti punya tempat yang diperhitungkan: suaranya
didengar dalam musyawarah keluarga, pendapatnya dipertimbangkan di majelis wali
murid, dan ilmunya dicari oleh tetangga. Ijazah hari ini adalah salah satu anak
tangga menuju kedudukan itu, bukan puncaknya.
Ketiga, muta'allimah wa mutarabbiyah, terpelajar
dan terdidik. Perhatikan, sang Syekh menyebut keduanya. Terpelajar artinya berilmu;
terdidik artinya ilmunya sudah menjadi watak. Banyak orang pintar yang tidak
terdidik, dan itulah sumber banyak kerusakan. Pesantren mengajarkan bahwa ilmu
tanpa adab hanya akan menjadi beban, seperti keledai yang memikul kitab.
Keempat, mutakhalliqah bil akhlaqil jamilah,
berakhlak indah. Inilah mahkotanya. Seorang ibu yang berakhlak tidak perlu banyak
berceramah kepada anaknya. Anak meniru jauh lebih cepat daripada mendengar. Ia
belajar sabar dari melihat ibunya sabar, belajar jujur dari melihat ibunya
jujur.
Penyair Mesir Hafiz Ibrahim meringkas
semua ini dalam satu bait yang masyhur:
الْأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِذَا أَعْدَدْتَهَا ...
أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ
Ibu adalah madrasah. Bila engkau
menyiapkannya dengan baik, engkau sedang menyiapkan satu bangsa yang berakar
mulia.
Tutur, Uwur, Sembur: Ilmu yang Tak Boleh Berhenti
Orang tua kita di Jawa punya rumusan
sederhana tentang tugas seorang ibu: tutur,
uwur, sembur. Tutur berarti mampu
menasihati. Ibu yang ilmunya luas akan menasihati dengan hikmah, bukan sekadar
dengan kata "pokoknya". Uwur
berarti mampu memberi, entah ilmu, tenaga, maupun rezeki, sesuai kapasitas yang
ia miliki. Sembur berarti mendoakan:
spiritualnya matang, dan doanya "menyembur" mengiringi setiap langkah
anak-anaknya.
Ketiganya hanya mungkin dijalankan
oleh perempuan yang tidak berhenti belajar. Itulah sebabnya wisuda hari ini
bukan garis finis. Syair yang masyhur di pesantren mengingatkan:
فَفُزْ بِعِلْمٍ تَعِشْ حَيًّا بِهِ أَبَدًا ۞
النَّاسُ مَوْتَى وَأَهْلُ الْعِلْمِ أَحْيَاءُ
Raihlah ilmu, maka engkau hidup
karenanya selamanya; manusia itu mati, sedangkan ahli ilmu tetap hidup. Jasad
boleh wafat, tetapi ilmu terus berjalan dari lisan ke lisan, dari hati ke hati.
Karena itu, glow saja tidak cukup. Wajah yang dirawat skincare akan menua,
tetapi ilmu yang dirawat dengan ngaji dan kuliah justru semakin berbuah.
Ibu-ibu kita yang tangannya kasar karena bekerja mengajarkan falsafah mikul duwur mendem jero: meski tangannya
tidak mulus, doanya tulus. Ketulusan semacam itu tumbuh dari jiwa yang
terdidik.
Pesan para ulama ini ternyata sejalan
dengan data. UNESCO mencatat bahwa anak yang ibunya bisa membaca 50 persen
lebih mungkin bertahan hidup melewati usia lima tahun. Perempuan yang
berpendidikan juga cenderung menikah lebih matang dan lebih memahami gizi serta
kebutuhan anak. Pepatah Arab merangkumnya: bagaimana
kita berharap punya anak yang terdidik, jika ia lahir dari ibu yang tidak
terdidik?
Pulanglah sebagai Madrasah
Wahai para wisudawati mahasantri,
setelah acara ini selesai dan foto-foto bertoga sudah dissave sebagai best
moment, kalian akan kembali ke kampung halaman atau Kembali ke asrama dengan
berbagai kegiatan. Ada yang akan mengajar di madrasah diniyah, ada yang
melanjutkan studi, ada yang segera menikah dan membangun rumah tangga. Jalan
kalian berbeda-beda, tetapi zimam
yang disebut Syekh al-Ghalayini akan tetap berada di tangan kalian, ke mana pun
kalian melangkah.
Jangan pernah merasa bahwa menjadi
ibu adalah "sekadar" urusan dapur dan rumah. Mengelola rumah, kata
sang Syekh, adalah salah satu tanda perempuan yang terdidik. Rumah yang tertata
melahirkan anak yang tertata. Dan seorang ibu yang sarjana sekaligus santri
punya modal ganda untuk itu: ilmu untuk memahami zaman anak-anaknya, dan adab
untuk menjaga mereka agar tidak hanyut oleh zaman itu.
Jangan pula merasa ilmu kalian
selesai di sini. Pesantren mengajarkan thalabul
'ilmi minal mahdi ilal lahdi, menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat.
Toga hanya dipakai sehari, tetapi kebiasaan membaca harus dipakai seumur hidup.
Dan yang terakhir, jangan lupakan guru-guru kalian. Para masyayikh yang
mendoakan dari kejauhan, para ustazah yang sabar membetulkan bacaan, para dosen
yang mencoret-coret draf skripsi kalian dengan tinta merah. Keberkahan ilmu,
kata para kiai kita, mengalir lewat hormat kepada guru. Selamat diwisuda, para
calon madrasah pertama. Semoga dari tangan kalian kelak lahir generasi yang
membuat umat ini kembali tegak.
Rujukan
1. Kitab
Idotun Nasyi’in
2.

Posting Komentar untuk "Ibu, Madrasah Pertama"