Sarung, Sinyal, dan Indonesia Emas
Catatan kecil kaum sarungan tentang santri yang menguatkan negeri
Oct
25, 2026 · @Moh. Abdullah Seminar di SKB
Pertanyaan Lama Kaum
Sarungan
Setiap
22 Oktober, santri mendadak naik pangkat. Kemarin masih dianggap kaum pinggiran
yang bangun subuh dengan mata setengah watt, hari ini tiba-tiba disebut
"pilar bangsa". Spanduk dipasang, sarung disetrika, peci
dikibas-kibaskan seperti bendera. Tahun ini Kementerian Agama memilih tema yang
terdengar gagah: Santri Menguatkan Negeri
Menuju Indonesia Emas. Pertanyaannya sederhana, tetapi menggelitik:
bagaimana mungkin orang yang menguatkan ikatan sarungnya saja masih sering
melorot, diminta menguatkan sebuah negeri?
Jawabannya,
tentu saja, bukan pada sarungnya. Sarung hanyalah kain; yang membuatnya
bermartabat adalah orang yang memakainya. Santri sejak awal memang tidak pernah
diukur dari apa yang melilit di pinggangnya, melainkan dari apa yang mengikat
di hatinya. Tahun 1945, ketika KH. Hasyim Asy'ari mengeluarkan Resolusi Jihad,
para santri tidak sempat berdebat soal dresscode. Mereka berangkat ke Surabaya
dengan bambu runcing, doa, dan keberanian yang tidak diajarkan di kelas mana
pun, kecuali di serambi pesantren.
Maka,
ketika hari ini santri diminta menguatkan negeri, itu bukan permintaan baru.
Itu tagihan lama yang ditulis ulang dengan tinta zaman. Bedanya, musuh hari ini
tidak datang dengan meriam, tetapi dengan notifikasi. Penjajah hari ini tidak
menembak tubuh, tetapi menembak perhatian.
Lima Huruf, Satu Arah
Ach.
Dhofir Zuhri dalam Peradaban Sarung
membaca kata santri huruf demi huruf, seperti santri membaca kitab gundul:
pelan, teliti, dan penuh curiga pada makna yang terlalu mudah. Sin adalah salik ilal-akhirah, penempuh jalan menuju Allah. Nun adalah na'ib 'anil-masyayikh, penerus para guru. Ta' adalah tarik
'anil-ma'ashi, peninggal maksiat. Ra'
adalah raghib ilal-khair, yang selalu
menghasrati kebaikan. Ya' adalah yarjus-salamah, yang optimis akan
keselamatan.
Lima
huruf ini, kalau direnungkan, sebenarnya adalah kurikulum kebangsaan yang
paling hemat anggaran. Tanpa modul, tanpa seminar di hotel berbintang, tanpa coffee break. Huruf sin, misalnya, mengajarkan sikap yang hari ini terdengar nyaris
subversif: tidak penting populer di bumi, yang penting di langit punya bendera.
Di zaman ketika orang rela berbuat apa saja demi trending, santri justru memilih jalan sunyi. Ia tidak sibuk
mengukur dirinya dengan jumlah pengikut, sebab ia tahu pengikut paling setia
adalah amal yang dikerjakan diam-diam.
Bayangkan
sebuah negeri yang dikelola orang-orang berwatak sin. Pejabatnya bekerja tanpa menunggu kamera menyala. Gurunya
mengajar tanpa menghitung like.
Pengusahanya jujur meski tidak ada auditor yang lewat. Negeri semacam itu tidak
perlu diperkuat dengan baliho; ia kuat karena warganya tidak bisa disuap oleh
tepuk tangan.
Tiga Dosa yang Tidak
Tercatat di KUHP
Huruf
ta' paling menarik untuk dikunyah.
Menurut Dhofir Zuhri, santri menjauhi tiga dosa yang tidak akan pernah dicatat
polisi. Pertama, dosa intelektual:
kebodohan, dan memperjualbelikan ilmu serta agama. Kedua, dosa sosial: tidak peduli dan tidak peka pada lingkungan serta
perjuangan rakyat kecil. Ketiga, dosa
spiritual: tidak hidup zuhud, silau oleh gemerlap dunia dan tipu daya
politik.
Yang
membuat daftar ini jenaka sekaligus menohok adalah ini: ketiganya justru sering
menjadi "prestasi" di tempat lain. Ada orang yang menjual dalil
seperti menjual pulsa, lengkap dengan paket hemat menjelang pemilu. Ada yang
hafal angka kemiskinan di luar kepala, tetapi tidak pernah tahu harga beras di
pasar dekat rumahnya. Ada pula yang dulu bersarung di pesantren, lalu begitu
masuk gedung bertingkat, sarungnya diganti jas dan zuhudnya ikut dititipkan di
lemari. Dhofir Zuhri menutupnya dengan sindiran yang sulit dibantah: santri
memang rakyat, jadi istilah "merakyat" seharusnya diperuntukkan bagi
pejabat yang lupa darat.
Di
titik ini, menguatkan negeri ternyata bukan soal menambah sesuatu, melainkan
soal berani mengurangi. Mengurangi kebodohan dengan belajar. Mengurangi
ketidakpedulian dengan turun tangan. Mengurangi kerakusan dengan hidup
sederhana. Pesantren sudah lama melatih ketiganya: antre mandi melatih sabar,
makan seadanya melatih zuhud, dan ro'an bersih-bersih melatih kepedulian.
Kurikulum kebangsaan terbaik, rupanya, diajarkan di antara jemuran dan bak
wudhu.
Kitab Kuning di Era Sinyal
Kuning
Lalu
bagaimana dengan zaman yang serba digital? Dalam Santri Milenial Nggak Ngasal, saya menulis bahwa jihad santri hari
ini adalah jihad medsos, bukan jihad golok. Kalimat ini sering disambut tawa,
padahal maksudnya serius. Medan perang telah pindah dari sawah dan rel kereta
ke layar lima inci. Di sana hoaks bersliweran lebih cepat dari ojek daring, dan
ujaran kebencian beranak-pinak lebih subur dari jamur musim hujan.
Santri
punya senjata yang tidak dimiliki banyak orang: tradisi tabayyun dan sanad. Ia terbiasa bertanya "ini kata siapa, dari
kitab apa, gurunya siapa?" sebelum percaya. Kebiasaan yang di pesantren
dianggap biasa ini, di media sosial menjadi kemewahan. Bayangkan jika setiap
pesan berantai di grup keluarga diperiksa dengan disiplin seorang santri yang
sedang muthala'ah: separuh hoaks di
negeri ini mungkin mati sebelum sempat diteruskan.
Tentu
santri tidak boleh berhenti pada sikap defensif. Kaidah yang kita warisi, al-muhafadzah 'ala al-qadim ash-shalih
wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah, menuntut dua hal sekaligus: menjaga yang
lama dan baik, sambil mengambil yang baru dan lebih baik. Di buku itu saya
menyebutnya santri berhati Ka'bah, berotak Amerika. Kitab kuning tetap di
pangkuan, tetapi bahasa asing, teknologi, kemampuan bicara, dan menulis harus
ikut di tas. Santri yang hanya pandai mengaji tetapi gagap teknologi akan
menjadi penonton. Sebaliknya, santri yang lihai teknologi tetapi kehilangan
adab akan menjadi masalah baru dengan kuota yang lebih besar.
Indonesia Emas Tidak Turun
dari Langit
Indonesia
akan berusia seratus tahun pada 2045. Para perencana menyebut periode menuju ke
sana sebagai bonus demografi, karena hampir tujuh dari sepuluh penduduk kita
berada di usia produktif. Tetapi bonus, seperti amplop lebaran, bisa habis
dalam semalam kalau tidak dikelola. Generasi muda yang banyak tanpa ilmu dan
akhlak bukan bonus, melainkan tagihan yang dicicil anak cucu.
Di
sinilah lima huruf santri menemukan maknanya yang paling politis, dalam arti
yang paling luhur. Salik melahirkan
warga yang jujur meski tidak diawasi. Na'ib
melahirkan kader pemimpin yang bersambung sanadnya pada guru. Tarik melahirkan benteng dari korupsi,
judi daring, dan hoaks. Raghib
melahirkan pelopor kebaikan yang merawat persatuan. Yarjus-salamah melahirkan optimisme yang tidak cengeng, karena ia
dibarengi kerja.
Indonesia
Emas tidak akan turun dari langit seperti hujan di musim kemarau. Ia harus
dibangun dari kebiasaan kecil yang dikerjakan dengan istiqomah: satu halaman
kitab yang dibaca setiap hari, satu kabar yang diperiksa sebelum dibagikan,
satu sampah yang dipungut tanpa disuruh. Santri tidak perlu menunggu diangkat
menjadi menteri untuk menguatkan negeri. Cukup ia menjadi santri yang
sungguh-sungguh, yang tidak ngasal. Sebab sekali santri tetap santri, dan
sekali berbakti, ya untuk negeri.
Rujukan
•
Moh.
Abdullah, Santri Milenial Nggak Ngasal:
Pendidikan Santri Sukses di Era Global.

Posting Komentar untuk "Sarung, Sinyal, dan Indonesia Emas"